Di balik Sistem Pemantauan Proyek (SiPP) yang sekarang berjalan, terdapat catatan panjang mengenai pengembangan system di Direktorat Jenderal Prasarana Wilayah yang dahulu bernama Ditjen Bina Marga.
Pengenalan system berbasis elektronik di Ditjen Bina Marga diawali pada tahun 1979 ketika Bagian Informasi Tatalaksana mulai mengoperasikan komputer. Pada saat itu komputer yang digunakan adalah Wang VS2200 dengan kemampuan memory sebesar 512 Kb dan Wang T2200 dengan memory 8 Kb.
Penggunaan komputer saat itu dirasakan sangat membantu dalam pengolahan data sehingga 2 tahun kemudian (1981) perangkat komputer ditingkatkan kemampuannya. Pada masa itu Central Processing Unit yang digunakan memiliki RAM sebesar 2 MB yang dianggap cukup besar. CPU dilengkapi dengan storage device berupa removable hard disk dalam 5 unit terpisah. Tiga buah hard disk berkapasitas 75MB dan 2 lainnya berkapasitas 288 MB. Jangan membayangkan ukuran hard disk saat itu dengan apa yang ada saat ini. Hard disk pada saat itu berdiameter sekitar 30 cm dan sifatnya yang removable (dapat dilepas) harus diartikan seperti kita mengganti CD RW yang perangkat baca-tulisnya terpisah. Bayangkan sebuah lemari es setinggi 75 cm. dengan pemutar CD berdiameter 30 cm di atasnya. Itulah ukuran disk drive yang ada saat itu (lihat foto).
Ketika Local Area Network diimplementasikan, jaringan internet belum dikenal di Indonesia. Pada masa itu sistem jaringan (LAN) sudah diterapkan Ditjen Bina Marga. Di lingkungan gedung Ditjen Bina Marga sejumlah 29 workstation terhubung secara serial ke CPU. Ditjen Bina Marga juga sudah memanfaatkan satelit Palapa 1, satelit pertama yang diorbitkan oleh Indonesia di kawasan Asia Tenggara. Masing-masing sebuah remote workstation dipasang di Kantor Wilayah PU Sumatra Utara, Sumatra Barat dan Sumatra Selatan.. Workstation juga dipasang di Makassar, Bandung, Semarang, Surabaya, dan Denpasar. Kantor Menteri Muda Transmigrasi juga memanfaatkan sebuah workstation karena transmigrasi yang semula ditangani oleh Dep. P.U. dialihkan. Seluruh workstation tersebut dapat langsung mengirimkan data ke CPU di Jakarta. Pemanfaatan satelit terus dipertahankan sampai tahun 1986.
Surutnya ekonomi nasional pada tahun 1986 menyebabkan pembiayaan untuk sewa transponder Palapa 1 tidak dapat dipenuhi. Pada tahun itu juga Personal Computer yang lebih murah mulai masuk ke Indonesia. Era mini computers seperti Wang menjadi surut dan akhirnya hilang ditelan masa. Di sisi lain penggunaan PC Apple dan PC IBM semakin tinggi. Processor Intel mulai merajai pasaran dan harga PC semakin murah dengan munculnya IBM Compatible, yaitu PC rakitan lokal. Peluang ini dimanfaatkan oleh Ditjen Bina Marga untuk memacu kembali penggunaan komputer dalam manajemen informasi. Pada tahun 1987 mulai dikembangkan SIM-BIMA yang merupakan akronim dari Sistem Informasi Manajemen Bina Marga. Secara pelahan, SIM BIMA ditingkatkan dan, ketika Ir. Bambang Sunyoto menjadi Kasubdit Perintal dan Ir. Satrio menjabat Sesditjen Bina Marga SIM BIMA berganti nama menjadi Kotak Pos Elektronik.
Kemajuan teknologi perangkat keras dan perangkat lunak terus bergulir. KPE yang semula berbasis sistem operasi DOS beralih ke Windows. Perubahan institusi selama akhir dekade 90-an menyebabkan tertinggalnya peningkatan perangkat keras. Sistem KPE yang sebenarnya cukup ideal tidak dapat dipertahankan. Hal yang yang sangat disesali.
Pada tahun 2000 terjadi lagi perubahan institusi. Banyak pihak mengalami kesulitan dalam manajemen, termasuk dalam pengolahan data. Bank Dunia yang ketika itu berkepentingan, setuju menyediakan dana melalui East Indonesia Road Transport Project (EIRTP) untuk menghidupkan kembali KPE. Upaya tersebut tidak berhasil karena berbagai hal sehingga akhirnya diputuskan untuk membangun sistem baru yang identik namun dengan memanfaatkan teknologi yang lebih baru dan lebih murah, yakni internet. Untuk menjawab tantangan itu, pada tahun 2001 versi pertama Sistem Pemantauan Proyek secara terbatas diperkenalkan di Bali untuk memenuhi kebutuhan (EIRTP). Sejak saat itu perbaikan aplikasi SiPP dilakukan terus menerus. Versi 2 tahun 2002 dalam versi beta kembali diperkenalkan di Jakarta dan terbatas bagi provinsi-provinsi dalam lingkup EIRTP . Pada tahun 2003, SiPP mulai didesiminasikan ke Makassar, Jayapura dan Kupang serta Manado untuk seluruh proyek-proyek di wilayah timur Indonesia, ke Surabaya untuk proyek-proyek di Jatim. Disusul oleh diseminasi di Yogya untuk seluruh proyek di Jateng dan DIY. Diseminasi juga dilaksanakan di Medan untuk semua proyek di Sumatra dan di Jakarta untuk proyek-proyek pusat dan seluruh proyek di Kalimantan. Selama masa itu berbagai perubahan terus dilakukan untuk memenuhi usulan perbaikan dari user dan untuk mempermudah penggunaannya. Pendekatan input data juga diubah. Jika pada desain awal input data dimulai dari tingkat pinbagpro yang sebagian tersebar di daerah kabupaten, maka pada SiPP 2004, input data ditangani sepenuhnya oleh tingkat proyek. Perubahan ini didasari oleh fakta di lapangan yang menunjukkan bahwa banyak kabupaten belum mendapatkan pelayanan internet yang dapat diandalkan. Bahkan pada tahun 2004 ini sebagian kabupaten di Sumatra, juga di Kalimantan dan sebagian besar kabupaten di kawasan timur Indonesia bahkan sama sekali belum memiliki hubungan ke internet. Perubahan pendekatan dalam input data pada tahun 2004 ini telah memberi hasil. Kini data alokasi anggaran, data pra-kontrak dan kontrak serta data rencana-realisasi setiap paket dari seluruh Indonesia sudah terekam. Perubahan juga dapat dilakukan dari kantor pinpro dan dilihat setiap saat oleh operator, sedangkan hasil input dapat dilihat melalui komputer di luar kantor oleh pihak-pihak yang terkait, sepanjang hubungan ke internet tersedia.
Penyesuaian sistem dengan kondisi di masa datang akan terus berlangsung, perubahan akan terus terjadi, sehingga yang perlu dipelihara bukan saja aplikasinya, tetapi juga kontinuitas pengiriman data. Memelihara sistem masih lebih mudah dibandingkan dengan memelihara kontinuitas pengiriman data. Padahal, sistem bukan lagi sebuah sistem jika data yang diolah merupakan data yang salah, data mati yang tidak pernah berubah, atau data yang perubahannya terlambat. Marilah kita terus bekerjasama untuk memelihara sistem ini, demi masa depan Indonesia. (admin) |